ULANG TAHUN DALAM BUDAYA DAN AGAMA

Diposting pada

Souvenir Bantal Ultah Anak – Ulang tahun adalah hari kelahiran seseorang, menandai hari dimulainya kehidupan di luar rahim. Dalam beberapa kebudayaan, memperingati ulang tahun seseorang biasanya dirayakan dengan mengadakan pesta ulang tahun dengan keluarga dan/atau teman. Hadiah sering diberikan pada orang yang merayakan ulang tahun. Pada saat seseorang ulang tahun, sudah menjadi kebiasaan untuk memperlakukan seseorang secara istimewa pada hari ulangtahunnya.

Ulang tahun dalam budaya dan agama

Romawi Kuno

Bangsa Romawi merayakan ulang tahun secara penuh antusias dengan pesta yang hedonistik dan hadiah yang berlimpah.[1]

Yahudi

Dalam agama Yahudi, pandangan pada perayaan ulang tahun masih diperdebatkan oleh berbagai rabbi. Di dalam Alkitab Ibrani, satu-satunya isi yang menyebutkan perayaan untuk memperingati hari kelahiran seseorang adalah mengenai ulang tahun Firaun Mesir yang terekam dalam Kejadian 40:20. Rabbi Moshe Feinstein adalah salah satu rabbi yang memahami ada nilai positif dari perayaan ulang tahun ini. The Lubavitcher Rebbe mendorong banyak orang untuk merayakan ulang tahun mereka, dengan berkumpul bersama kerabat, membuat resolusi positif, dan melalui berbagai kegiatan keagamaan. Menurut Rabbi Yissocher Frand, ulang tahun kelahiran seseorang merupakan hari khusus karena doa seseorang tersebut pada hari itu dapat terkabulkan.

Bar mitzvah untuk anak laki-laki Yahudi berumur 13 tahun, atau bat mitzvah untuk anak perempuan Yahudi berumur 12 tahun, mungkin adalah satu-satunya perayaan Yahudi yang sering dikaitkan dengan ulang tahun. Walaupun perayaan modern, di mana “ulang tahun” sekuler seringkali mengecilkan hakikatnya sebagai ritual agama, namun pada mulanya inti dari perayaan bar mitzvah atau bat mitzvah sepenuhnya bersifat keagamaan (pencapaian kematangan beragama menurut hukum Yahudi), dan bukan bersifat sekuler. Dengan atau tanpa perayaan ulang tahun, seorang anak Yahudi tetap akan mengalami bar mitzvah atau bat mitzvah, dan mungkin dirayakan pada hari itu atau beberapa hari setelahnya.

Kekristenan

Kekristenan: Abad-abad awal
Origen dalam pendapatnya “On Levites” menulis bahwa umat Kristiani tidak hanya harus menahan diri dari merayakan ulang tahun mereka, tetapi harus memandangnya dengan jijik.

Kristen Ortodoks masih lebih menyukai perayaan hari nama saja.

Kekristenan

Masyarakat umum merayakan hari santo mereka, tetapi para bangsawan merayakan ulang tahun kelahiran mereka. “Squire’s Tale” (Kisah Pengawal), salah satu dari The Canterbury Tales karya Chaucer, dibuka saat Raja Cambuskan menyatakan pesta untuk merayakan ulang tahunnya.

Kekristenan

Saksi-Saksi Yehuwa dan beberapa kelompok Nama Suci (Sacred Name) menjauhkan diri dari perayaan ulang tahun. Mereka percaya bahwa perayaan ulang tahun digambarkan dalam cahaya yang negatif dalam Alkitabdan memiliki hubungan sejarah dengan sihir, takhayul, dan paganisme.

Islam

Beberapa ulama menganggap merayakan ulang tahun adalah perbuatan dosa, karena dianggap sebagai suatu “inovasi” dalam beragama, atau bidah, sedangkan ulama-ulama lain mengeluarkan pernyataan bahwa merayakan ulang tahun itu dibolehkan.

Sebagian umat Muslim (dan orang-orang Kristen Arab) bermigrasi ke Amerika Serikat dan mengadopsi kebiasaan merayakan ulang tahun, khususnya bagi anak-anak, tetapi sebagian yang lain menentangnya.

Juga, ada banyak sekali kontroversi mengenai perayaan Maulid Nabi. Sementara sebagian umat Islam merayakannya dengan penuh antusias, lainnya mengutuk perayaan tersebut, menganggap mereka telah keluar dari ruang lingkup ajaran Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *